BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
SMP Negeri 2 Bringin merupakan
sekolah yang berada di daerah pedalaman
Desa Pakis, Kecamatan Bringin. Sebagai sekolah
nonfavorit, sebagian besar peserta didik yang masuk ke SMP Negeri 2 Bringin merupakan
limpahan dari sekolah-sekolah yang lebih favorit dengan nilai hasil belajar SD
yang rendah. Ketuntasan belajar ideal 85% belum dapat diterapkan di SMP Negeri 2 Bringin. Pada Tahun Pelajaran 2019/2020, nilai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) mata pelajaran bahasa Indonesia pada
kelas IX E adalah
75. Pada
semester 1 Tahun
Pelajaran 2019/2020, hasil ulangan harian bahasa Indonesia materi Menulis Cerpen kelas IX E menunjukkan
rata-rata nilai 64,67 dengan 4 peserta didik (13%) yang tuntas dan 26 peserta didik (87%) tidak tuntas. Hal ini
menunjukkan bahwa hasil belajar peserta didik masih rendah.
Berdasarkan pengalaman penulis
mengampu mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMP Negeri 2 Bringin sejak tahun 2010 sampai dengan sekarang, dijumpai aktivitas dan
hasil belajar menulis cerpen kelas IX masih rendah. Penulis menduga, rendahnya aktivitas dan
hasil belajar menulis cerpen karena peserta didik merasa jenuh dengan model pengajaran konvensional
yang monoton, kurang variatif, kurang menarik, isi materi kurang kontekstual,
serta tidak ada interaksi aktif antarpeserta didik. Hal tersebut dialami kelas IX E, pembelajaraan terasa
kurang hidup, sebagian besar peserta didik pasif. Hanya beberapa peserta didik
saja yang terlihat aktif dalam pembelajaran. Selama proses pembelajaran peserta
didik hanya duduk dan mendengarkan, bahkan sebagian asyik dengan aktivitasnya sendiri
seperti mengobrol dengan
teman sebangku, memainkan
pulpennya, dan lain-lain.
Dalam kegiatan belajar mengajar maupun
dalam penugasan peserta didik cenderung pasif dan menunggu temannya untuk
mengerjakan tugas. Beberapa peserta didik bahkan sama sekali tidak mengerjakan
tugas dengan alasan tidak bisa atau tidak membawa buku dan lebih memilih
bercakap-cakap atau bermain-main dengan teman daripada mengerjakan tugas. Dalam
diskusi kelompok cenderung diam, tidak aktif dan individualis. Hal ini
menunjukkan aktivitas belajarnya masih rendah.
Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun
2005 mengenai Standar Nasional Pendidikan pada pasal 19 mengamanatkan bahwa
proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif,
inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk
berpartisipasi aktif serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa,
kreativitas dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.
Sejalan dengan hal tersebut maka diharapkan guru menerapkan berbagai strategi
pembelajaran yang meliputi pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran secara
spesifik. Ciri model pembelajaran yang baik meliputi adanya keterlibatan
intelektual–emosional peserta didik
melalui kegiatan mengalami, menganalisis, berbuat, dan pembentukan sikap;
adanya keikutsertaan peserta didik secara aktif dan kreatif selama pelaksanaan model pembelajaran; guru
bertindak sebagai fasilitator, koordinator, mediator dan motivator kegiatan
belajar peserta didik, serta penggunaan berbagai metode, alat dan media pembelajaran.
Media pembelajaran yang tepat dapat
melibatkan peserta didik berperan secara aktif baik secara fisik, mental maupun
emosional. Media pembelajaran dapat menarik minat dan gairah belajar peserta
didik (Susilana, 2007). Media pembelajaran film pendek merupakan media pembelajaran berupa tayangan film pada materi menulis teks cerpen. Media
pembelajaran film pendek digunakan pada pembelajaran dengan penayangan audio visual yang dapat memberikan inspirasi dan imajinasi
peserta didik dalam menulis cerpen.
Pada praktiknya, pembelajaran menulis cerpen pada kelas
IX E lebih
banyak disajikan dengan metode ceramah. Pembelajaran lebih berorientasi pada
guru (Teacher Centered), peserta didik tidak dilibatkan secara aktif. Media pembelajaran
yang digunakan masih sebatas presentasi powerpoint.
Guru belum menggunakan model pembelajaran yang melibatkan peserta didik secara
aktif. Guru belum menggunakan model
pembelajaran sinektik berbantuan media film pendek. Peserta didik kurang memiliki ketertarikan pada pelajaran yang
dianggap sulit dan teoritis saja sehingga aktivitas dan hasil belajarnya
rendah. Rendahnya aktivitas dan hasil belajar peserta didik dipengaruhi oleh
faktor peserta didik dan guru. Salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya aktivitas dan hasil
belajar dari faktor guru karena guru belum menggunakan berbagai macam model dan media. Sedangkan
faktor peserta didik adalah menganggap pembelajaran menulis cerpen sulit, membosankan dan
tidak menarik, materi menulis cerpen dianggap materi yang abstrak dan terlalu banyak menulis. Melihat rendahnya
aktivitas dan
hasil belajar peserta didik maka perlu dilakukan penelitian tindakan kelas oleh
guru untuk memecahkan masalah tersebut. Perlu ada tindakan penerapan model pembelajaran sinektik berbantuan
media film pendek untuk meningkatkan aktivitas
dan hasil belajar menulis
cerpen pada peserta didik kelas IX E SMP Negeri 2 Bringin
semester 1 tahun pelajaran 2019/2020 .
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian di atas, maka dilakukan penelitian dengan judul“ Penerapan Model Pembelajaran Sinektik Berbantuan
Media Film Pendek untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Menulis Cerpen pada Peserta didik Kelas IX E SMP Negeri 2 Bringin, Kab. Semarang, Semester 1 Tahun Pelajaran 2019/2020.
1. Rendahnya
aktivitas dan hasil belajar menulis cerpen.
2. Peserta didik
mengalami kesulitan dalam mengembangkan ide dan
gagasan.
3. Metode pembelajaran yang masih
konvensional dan monoton dalam
mengajarkan cerpen.
4. Pembelajaran yang kurang
variatif, kurang menarik serta materi yang kurang kontekstual.
5. Peserta didik beranggapan
bahwa menulis teks cerpen sangatlah sulit karena harus memahami karakter
tokoh dan alur cerita.
6. Penggunaan media film
pendek belum pernah digunakan dalam menulis
cerpen.
C. Pembatasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah di atas, maka penelitian ini
dibatasi
pada:
1.
Rendahnya aktivitas belajar peserta didik
2.
Rendahnya hasil belajar peserta didik
3.
Perlunya model pembelajaran sinektik
4.
Perlunya media film pendek
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah dapat dirumuskan permasalahan
sebagai berikut:
1. Bagaimana meningkatkan aktivitas belajar peserta didik dalam pembelajaran
menulis cerpen menggunakan
model pembelajaran sinektik dengan berbantuan film pendek?
2. Bagaimana meningkatkan hasil
belajar peserta didik dalam pembelajaran
menulis cerpen menggunakan model pembelajaran sinektik berbantuan film pendek?
3. Bagaimana
meningkatkan aktivitas dan hasil belajar peserta didik dalam
pembelajaran menulis cerpen menggunakan model
pembelajaran sinektik berbantuan film
pendek?
E. Tujuan
Penelitian
Sejalan dengan rumusan masalah
tersebut, maka tujuan penelitian ini adalah:
1.
Untuk mengetahui bagaimanakah model pembelajaran sinektik
berbantuan media film pendek dapat
meningkatkan aktivitas menulis cerpen pada peserta didik kelas IX E SMP Negeri
2 Bringin, Kab. Semarang semester I tahun pelajaran 2019/2020.
2.
Untuk mengetahui bagaimanakah model pembelajaran sinektik
berbantuan media film pendek dapat
meningkatkan hasil belajar menulis
cerpen pada peserta didik kelas IX E SMP Negeri 2 Bringin, Kab. Semarang
semester I tahun pelajaran 2019/2020.
3.
Untuk mengetahui peningkatan aktivitas dan hasil belajar
melalui model pembelajaran sinektik berbantuan
media film pendek dalam menulis cerpen pada peserta didik kelas IX E SMP
Negeri 2 Bringin, Kab. Semarang semester I tahun pelajaran 2019/2020.
F.
Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat
memberikan manfaat bagi peserta didik, guru, dan sekolah serta pembaca pada
umumnya terlebih dalam meningkatkan aktivitas dan hasil belajar menulis cepen.
1. Manfaat Teoretis
Penelitian ini
diharapkan dapat memberikan
informasi bagi pembaca,
dan dapat dijadikan literatur dalam pelaksanaan penelitian di masa
mendatang.
2. Manfaat Praktis
a.
Bagi Penulis
1) Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan tentang
pembelajaran inovatif menulis cerpen dengan model pembelajaran sinektik berbantuan
media film pendek.
2) Sebagai
upaya memenuhi angka kredit publikasi ilmiah.
b.
Bagi Peserta didik
1) Melatih
aktivitas peserta didik untuk
belajar aktif
2) Melatih
peserta didik lebih berani dan percaya diri dalam mengungkapkan gagasan, ide,
maupun imajinasinya.
3) Memberikan
alternatif pembelajaran bahasa Indonesia khususnya dalam suasana yang
menyenangkan dengan media yang menarik dan bervariasi.
c.
Bagi guru
1) Meningkatkan
kreativitas guru dalam mengembangkan media pembelajaran.
2)
Memiliki kemampuan penelitian tindakan kelas yang inovatif.
d.
Bagi sekolah
1) Diharapkan dapat memberikan informasi atau
masukan, inovasi pembelajaran yang lebih menarik bagi peserta didik.
2) Diharapkan sebagai referensi bagi sekolah dalam rangka meningkatkan
prestasi belajar matematika.