‘Sinektik’ Tingkatkan Menulis Cerpen melalui
Film Pendek
Guru
Bahasa Indonesia SMP Negeri 2 Bringin,
Kab. Semarang
Dalam proses pembelajaran peserta didik sering dijadikan kambing hitam apabila pembelajaran tidak memenuhi target yang diharapkan oleh guru. Banyak alasan di antaranya peserta didik dianggap malas, bodoh, kurang memperhatikan, dsb. Dari segi aktivitas belajar, peserta didik kurang memperhatikan ketika diberikan penjelasan, saat pembelajaran berkelompok mereka tidak menunjukkan kerja sama yang baik bahkan ada yang sibuk sendiri. Namun, sebagai guru kita harus instrospeksi diri dan berusaha mengetahui alasan mengapa peserta didik kurang semangat beraktivitas sehingga hasil belajarnya rendah. Guru yang kreatif akan berusaha mencari penyebabnya agar pembelajaran menjadi menarik, tidak membosankan, dan selalu menyenangkan. Rendahnya kemampuan menulis cerpen di kelas IX E SMPN 2 Bringin, Kab. Semarang semester 1 TP 2019/2020 diduga karena pembelajaran yang bersifat konvensional, monoton, dan kurang variatif. Melihat kondisi ini peneliti menganggap perlu menemukan model dan media pembelajaran yang bisa membuat peserta didik lebih mudah dalam menguasai materi menulis cerpen sehingga bisa meningkatkan aktivitas dan hasil belajarnya.
Menurut Susilana (2010) Media
pembelajaran yang tepat dapat melibatkan peserta didik berperan secara aktif
baik secara fisik, mental, maupun emosional. Media pembelajaran dapat menarik
minat dan gairah belajar peserta didik. Media pembelajaran film pendek
merupakan media pembelajaran berupa tayangan film pada materi menulis cerpen.
Melalui film pendek diharapkan mampu menginspirasi untuk mencipta sebuah
cerpen.
Menurut William J.J Gordon (2008) Sinektik berarti strategi mempertemukan
berbagai unsur, dengan menggunakan kiasan untuk memperoleh satu pandangan
baru. Sinektik merupakan model pembelajaran yang didesain untuk
mengembangkan kreativitas. Model pembelajaran ini merupakan upaya pemahaman
menulis cerpen melalui proses metaforik dan analogi yang menekankan keaktifan
dan kreativitas peserta didik.
Sebelum menggunakan model pembelajaran, rata-rata
aktivitas belajar peserta didik berada pada skor 2,90 atau kualifikasi cukup. Setelah
menggunakan model pembejararan sinektik
berbantuan film pendek, aktivitas belajar meningkat menjadi 3,84 atau pada
kualifikasi baik. Begitu pula pada ketuntasan hasil belajar dengan KKM 75. Sebelum
dilakukan tidakan rata-rata hasil belajar hanya 64,67. Setelah dilakukan tindakan
dengan menggunakan model pembejararan sinektik
berbantuan film pendek, hasil belajarnya meningkat menjadi 86,07 atau pada
kualifikasi baik. Adapun indikator
keberhasilan dalam penelitian ini adalah apabila hasil belajar pada KD. Menulis
cerpen mencapai nilai rata-rata klasikal lebih dari 85.
Proses Pembelajaran menggunakan saintifik
atau 5M, Pada tindakan I guru menayangkan film pendek berjudul “Pejuang Subuh,”
peserta didik mengamati, menanya, mengumpulkan informasi dengan berkelompok
yang terdiri dari 6 anggota untuk menulis isi cerita film dengan sudut pandang
orang ketiga, mengasosiasi, dan mengkonfirmasi, pada tugas individu peserta
didik menulis cerpen yang dikaitkan dengan tema film dengan sudut pandang orang
ketiga. Sedangkan pada tindakan II, perlakuan sama. Namun film yang ditayangkan
berbeda. Berdasarkan film berjudul “Bejo,” anggota kelompok 4 orang
menuliskannya menjadi cerpen dengan sudut pandang orang ketiga. Pada tugas
individu, peserta didik menulis cerpen dengan sudut pandang orang pertama. Guru
meminta untuk menghubungkan peristiwa yang dipilih sesuai dengan peristiwa yang
terjadi pada film pendek yang ditayangkan dan menganalogikan pada diri sendiri
atau menjadi analogi dari peristiwa tersebut.
Aspek yang dinilai
meliputi: isi cerita, unsur intrinsik, kosakata, bahasa, ejaan, dan tanda baca.
Sedangkan pengamatan aktivitas meliputi: diskusi, kerja sama, dan keaktifan.
Jadi model pembelajaran sinektik berbantuan film pendek dapat
meningkatkan aktivitas dan hasil belajar peserta didik menulis cerpen di kelas
IX E SMPN 2 Bringin, Kabupaten Semarang, semester I tahun pelajaran 2019/2020. Saran
peneliti hendaknya guru menggunakan model dan media pembelajaran untuk
meningkatkan aktivitas dan hasil belajar peserta didik.
No comments:
Post a Comment