Friday, March 6, 2020

PTK BAB I Sinektik


BAB I
PENDAHULUAN


A.     Latar Belakang Masalah


SMP Negeri 2 Bringin merupakan sekolah yang berada di daerah pedalaman Desa Pakis, Kecamatan Bringin. Sebagai sekolah nonfavorit, sebagian besar peserta didik yang masuk ke SMP Negeri 2 Bringin merupakan limpahan dari sekolah-sekolah yang lebih favorit dengan nilai hasil belajar SD yang rendah. Ketuntasan belajar ideal 85% belum dapat diterapkan di SMP Negeri 2 Bringin. Pada Tahun Pelajaran 2019/2020,  nilai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) mata pelajaran bahasa Indonesia pada kelas IX E adalah 75. Pada semester 1 Tahun Pelajaran 2019/2020, hasil ulangan harian bahasa Indonesia materi Menulis Cerpen kelas IX E menunjukkan rata-rata nilai 64,67 dengan 4 peserta didik (13%) yang tuntas dan 26 peserta didik (87%) tidak tuntas.  Hal ini menunjukkan bahwa hasil belajar peserta didik masih rendah.
Berdasarkan pengalaman penulis mengampu mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMP Negeri 2 Bringin sejak tahun 2010 sampai dengan sekarang, dijumpai aktivitas dan hasil belajar menulis cerpen kelas IX masih rendah. Penulis menduga, rendahnya aktivitas dan hasil belajar menulis cerpen karena peserta didik merasa jenuh dengan model pengajaran konvensional yang monoton, kurang variatif, kurang menarik, isi materi kurang kontekstual, serta tidak ada interaksi aktif antarpeserta didik. Hal tersebut dialami kelas IX E, pembelajaraan terasa kurang hidup, sebagian besar peserta didik pasif. Hanya beberapa peserta didik saja yang terlihat aktif dalam pembelajaran. Selama proses pembelajaran peserta didik hanya duduk  dan  mendengarkan, bahkan sebagian asyik dengan aktivitasnya  sendiri  seperti  mengobrol  dengan  teman  sebangku, memainkan pulpennya, dan lain-lain.
Dalam kegiatan belajar mengajar maupun dalam penugasan peserta didik cenderung pasif dan menunggu temannya untuk mengerjakan tugas. Beberapa peserta didik bahkan sama sekali tidak mengerjakan tugas dengan alasan tidak bisa atau tidak membawa buku dan lebih memilih bercakap-cakap atau bermain-main dengan teman daripada mengerjakan tugas. Dalam diskusi kelompok cenderung diam, tidak aktif dan individualis. Hal ini menunjukkan aktivitas belajarnya masih rendah.
Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 mengenai Standar Nasional Pendidikan pada pasal 19 mengamanatkan bahwa proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat,  dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Sejalan dengan hal tersebut maka diharapkan guru menerapkan berbagai strategi pembelajaran yang meliputi pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran secara spesifik. Ciri model pembelajaran yang baik meliputi adanya keterlibatan intelektual–emosional  peserta didik melalui kegiatan mengalami, menganalisis, berbuat, dan pembentukan sikap; adanya keikutsertaan peserta didik secara aktif dan kreatif selama  pelaksanaan model pembelajaran; guru bertindak sebagai fasilitator, koordinator, mediator dan motivator kegiatan belajar peserta didik, serta penggunaan berbagai metode, alat dan media pembelajaran.
Media pembelajaran yang tepat dapat melibatkan peserta didik berperan secara aktif baik secara fisik, mental maupun emosional. Media pembelajaran dapat menarik minat dan gairah belajar peserta didik (Susilana, 2007). Media pembelajaran film pendek merupakan media pembelajaran berupa tayangan film pada materi menulis teks cerpen. Media pembelajaran film pendek digunakan pada pembelajaran dengan penayangan audio visual yang dapat memberikan inspirasi dan imajinasi peserta didik dalam menulis cerpen.
Pada praktiknya, pembelajaran menulis cerpen pada kelas IX E lebih banyak disajikan dengan metode ceramah. Pembelajaran lebih berorientasi pada guru (Teacher Centered), peserta didik tidak dilibatkan secara aktif. Media pembelajaran yang digunakan masih sebatas presentasi powerpoint. Guru belum menggunakan model pembelajaran yang melibatkan peserta didik secara aktif. Guru belum menggunakan model pembelajaran sinektik berbantuan media film pendek. Peserta didik kurang memiliki ketertarikan pada pelajaran yang dianggap sulit dan teoritis saja sehingga aktivitas dan hasil belajarnya rendah. Rendahnya aktivitas dan hasil belajar peserta didik dipengaruhi oleh faktor peserta didik dan guru. Salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya aktivitas dan hasil belajar dari faktor guru karena guru belum menggunakan berbagai macam model dan media. Sedangkan faktor peserta didik adalah menganggap pembelajaran menulis cerpen sulit, membosankan dan tidak menarik, materi menulis cerpen dianggap materi yang abstrak dan terlalu banyak menulis. Melihat rendahnya aktivitas dan hasil belajar peserta didik maka perlu dilakukan penelitian tindakan kelas oleh guru untuk memecahkan masalah tersebut. Perlu ada tindakan penerapan model pembelajaran sinektik berbantuan media film pendek untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar menulis cerpen pada  peserta didik kelas IX E SMP Negeri 2 Bringin  semester 1 tahun pelajaran 2019/2020 .

B.      Identifikasi Masalah

Berdasarkan uraian di atas, maka dilakukan penelitian dengan judul“ Penerapan Model Pembelajaran Sinektik Berbantuan Media Film Pendek untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Menulis Cerpen pada Peserta didik Kelas IX E SMP Negeri 2 Bringin, Kab. Semarang, Semester 1 Tahun Pelajaran  2019/2020.
 1. Rendahnya aktivitas dan hasil belajar menulis cerpen.
 2. Peserta didik mengalami kesulitan dalam mengembangkan ide dan
     gagasan.
 3. Metode pembelajaran yang masih konvensional dan monoton dalam  
      mengajarkan cerpen.
 4. Pembelajaran yang kurang variatif, kurang menarik serta materi yang kurang kontekstual.
 5. Peserta didik  beranggapan  bahwa menulis teks cerpen sangatlah sulit karena harus memahami karakter tokoh dan alur cerita.
 6.  Penggunaan media film pendek belum pernah digunakan dalam menulis
       cerpen.
C. Pembatasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah di atas, maka penelitian ini dibatasi
pada:
1.    Rendahnya aktivitas belajar peserta didik
2.    Rendahnya hasil belajar peserta didik
3.    Perlunya model pembelajaran sinektik
4.    Perlunya media film pendek
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah dapat dirumuskan permasalahan  
    sebagai berikut:
1.    Bagaimana meningkatkan aktivitas belajar peserta didik dalam pembelajaran menulis cerpen menggunakan model pembelajaran sinektik dengan berbantuan film pendek?
2.    Bagaimana meningkatkan hasil belajar peserta didik dalam pembelajaran  menulis cerpen menggunakan model pembelajaran sinektik  berbantuan film pendek?
3.    Bagaimana meningkatkan aktivitas dan hasil belajar peserta didik dalam pembelajaran  menulis cerpen menggunakan model pembelajaran sinektik  berbantuan film pendek?


E. Tujuan Penelitian
Sejalan dengan rumusan masalah tersebut, maka tujuan penelitian ini adalah:
1.      Untuk mengetahui bagaimanakah model pembelajaran sinektik berbantuan  media film pendek dapat meningkatkan aktivitas menulis cerpen pada peserta didik kelas IX E SMP Negeri 2 Bringin, Kab. Semarang semester I tahun pelajaran 2019/2020.
2.      Untuk mengetahui bagaimanakah model pembelajaran sinektik berbantuan  media film pendek dapat meningkatkan hasil belajar  menulis cerpen pada peserta didik kelas IX E SMP Negeri 2 Bringin, Kab. Semarang semester I tahun pelajaran 2019/2020.
3.      Untuk mengetahui peningkatan aktivitas dan hasil belajar melalui model pembelajaran sinektik berbantuan  media film pendek dalam menulis cerpen pada peserta didik kelas IX E SMP Negeri 2 Bringin, Kab. Semarang semester I tahun pelajaran 2019/2020.
F.     Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi peserta didik, guru, dan sekolah serta pembaca pada umumnya terlebih dalam meningkatkan aktivitas dan hasil belajar menulis cepen.
1.    Manfaat Teoretis
Penelitian  ini  diharapkan  dapat  memberikan  informasi  bagi  pembaca,  dan dapat dijadikan literatur dalam pelaksanaan penelitian di masa mendatang.
2.     Manfaat Praktis
a.         Bagi Penulis
1)    Penelitian  ini diharapkan dapat menambah wawasan tentang pembelajaran inovatif menulis cerpen dengan model pembelajaran sinektik berbantuan media film pendek.
2)    Sebagai upaya memenuhi angka kredit publikasi ilmiah.
b.         Bagi Peserta didik
1)    Melatih aktivitas peserta didik untuk belajar aktif
2)    Melatih peserta didik lebih berani dan percaya diri dalam mengungkapkan gagasan, ide, maupun imajinasinya.
3)    Memberikan alternatif pembelajaran bahasa Indonesia khususnya dalam suasana yang menyenangkan dengan media yang menarik dan bervariasi.
c.         Bagi guru
1)    Meningkatkan kreativitas guru dalam mengembangkan media pembelajaran.
2)   Memiliki kemampuan penelitian tindakan kelas yang inovatif.
d.        Bagi sekolah
1)  Diharapkan dapat memberikan informasi atau masukan, inovasi pembelajaran yang lebih menarik bagi peserta didik.
2) Diharapkan sebagai referensi bagi sekolah dalam rangka meningkatkan prestasi belajar matematika.

"Sinektik" Tingkat Menulis Cerpen melalui Film Pendek


‘Sinektik’ Tingkatkan Menulis Cerpen melalui Film Pendek
Noor Alfiyah, S. Pd. M.Si.
Guru Bahasa Indonesia SMP Negeri  2 Bringin, Kab. Semarang





Dalam proses pembelajaran peserta didik sering dijadikan kambing hitam apabila pembelajaran tidak memenuhi target yang diharapkan  oleh guru. Banyak alasan di antaranya peserta didik dianggap malas, bodoh, kurang memperhatikan, dsb. Dari segi aktivitas belajar, peserta didik kurang memperhatikan ketika diberikan penjelasan, saat pembelajaran berkelompok mereka tidak menunjukkan kerja sama yang baik bahkan ada yang sibuk sendiri. Namun, sebagai guru kita harus instrospeksi diri dan berusaha mengetahui alasan mengapa peserta didik kurang semangat beraktivitas sehingga hasil belajarnya rendah. Guru yang kreatif akan berusaha mencari penyebabnya agar pembelajaran menjadi menarik, tidak membosankan, dan selalu menyenangkan. Rendahnya kemampuan menulis cerpen di kelas IX E SMPN 2 Bringin, Kab. Semarang semester 1 TP 2019/2020 diduga karena pembelajaran yang bersifat konvensional, monoton, dan kurang variatif. Melihat kondisi ini peneliti menganggap perlu menemukan model dan media pembelajaran yang bisa membuat peserta didik lebih mudah dalam menguasai materi menulis cerpen sehingga bisa meningkatkan aktivitas dan hasil belajarnya.
Menurut Susilana (2010) Media pembelajaran yang tepat dapat melibatkan peserta didik berperan secara aktif baik secara fisik, mental, maupun emosional. Media pembelajaran dapat menarik minat dan gairah belajar peserta didik. Media pembelajaran film pendek merupakan media pembelajaran berupa tayangan film pada materi menulis cerpen. Melalui film pendek diharapkan mampu menginspirasi untuk mencipta sebuah cerpen.
Menurut William J.J Gordon (2008) Sinektik berarti strategi mempertemukan berbagai unsur, dengan menggunakan kiasan untuk memperoleh satu pandangan baru.  Sinektik merupakan model pembelajaran yang didesain untuk mengembangkan kreativitas. Model pembelajaran ini merupakan upaya pemahaman menulis cerpen melalui proses metaforik dan analogi yang menekankan keaktifan dan kreativitas peserta didik.
Sebelum menggunakan model pembelajaran, rata-rata aktivitas belajar peserta didik berada pada skor 2,90 atau kualifikasi cukup. Setelah menggunakan model pembejararan sinektik berbantuan film pendek, aktivitas belajar meningkat menjadi 3,84 atau pada kualifikasi baik. Begitu pula pada ketuntasan hasil belajar dengan KKM 75. Sebelum dilakukan tidakan rata-rata hasil belajar hanya 64,67. Setelah dilakukan tindakan dengan menggunakan model pembejararan sinektik berbantuan film pendek, hasil belajarnya meningkat menjadi 86,07 atau pada kualifikasi baik. Adapun indikator keberhasilan dalam penelitian ini adalah apabila hasil belajar pada KD. Menulis cerpen mencapai nilai rata-rata klasikal lebih dari 85.
Proses Pembelajaran menggunakan saintifik atau 5M, Pada tindakan I guru menayangkan film pendek berjudul “Pejuang Subuh,” peserta didik mengamati, menanya, mengumpulkan informasi dengan berkelompok yang terdiri dari 6 anggota untuk menulis isi cerita film dengan sudut pandang orang ketiga, mengasosiasi, dan mengkonfirmasi, pada tugas individu peserta didik menulis cerpen yang dikaitkan dengan tema film dengan sudut pandang orang ketiga. Sedangkan pada tindakan II, perlakuan sama. Namun film yang ditayangkan berbeda. Berdasarkan film berjudul “Bejo,” anggota kelompok 4 orang menuliskannya menjadi cerpen dengan sudut pandang orang ketiga. Pada tugas individu, peserta didik menulis cerpen dengan sudut pandang orang pertama. Guru meminta untuk menghubungkan peristiwa yang dipilih sesuai dengan peristiwa yang terjadi pada film pendek yang ditayangkan dan menganalogikan pada diri sendiri atau menjadi analogi dari peristiwa tersebut.
            Aspek yang dinilai meliputi: isi cerita, unsur intrinsik, kosakata, bahasa, ejaan, dan tanda baca. Sedangkan pengamatan aktivitas meliputi: diskusi, kerja sama, dan keaktifan.
            Jadi model pembelajaran sinektik berbantuan film pendek dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar peserta didik menulis cerpen di kelas IX E SMPN 2 Bringin, Kabupaten Semarang, semester I tahun pelajaran 2019/2020. Saran peneliti hendaknya guru menggunakan model dan media pembelajaran untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar peserta didik.